JANGAN MAU KALAH DENGAN MEREKA

30 11 2009

Sengatan matahari tak membuat mereka mengeluh, padahal saat itu mereka tengah berada di sebuah lapangan terbuka yang agak luas dan tandus. Pandangan mereka tajam ke depan, namun sikap mereka tetap terlihat tenang. Badan mereka tegap, berdiri dengan kokoh di atas kaki-kaki yang pendek tapi cukup kuat untuk sekedar menopang tubuh besar itu. Tak ada tanda-tanda sedikitpun yang menunjukkan bahwa mereka ketakutan. Padahal, detik-detik menuju akhir hayat mereka sudah sangat dekat.

Beberapa saat kemudian terlihat banyak orang berdatangan berkumpul di lapangan tersebut. Seseorang tampak menenteng sebuah senjata tajam yang berkilauan, sepertinya baru diasah. Ia lah sang eksekutor. Para ‘terpidana mati’ sekarang agak gelisah karena merasa terganggu dikerubungi banyak orang. Memang, eksekusi mati kali ini agak spesial karena diperbolehkan bagi masyarakat umum untuk menyaksikannya secara langsung. Dan sebentar lagi, tibalah saat menegangkan itu. Salah seorang ‘terpidana’ hanya bisa bersuara pilu..

“Muoooooo…..”

“Woiii, lebay banget sih lo, itukan cuma penyembelihan hewan kurban biasa, di kampung gue juga ada kok!”

“Heh, biarin. Ini kan wujud penghargaan gue terhadap sapi-sapi yang rela berkorban nyawa demi kita, demi umat Islam men! Jadi yaa gue nulis ini dengan rasa hormat juga. Dasar loe aja yang nggak berperikebinatangan!”

(Padahal sambil ngomong gitu gue dengan lahapnya menyantap daging sapi yang udah dijadikan sate)

***
Huff, sekarang gue udah kenyang nih, jadi gue lanjutin aja ceritanya yak! Emang proses penyembelihan hewan kurban udah jadi hal yang biasa dilakukan di mana pun, berhubung di Negara kita penduduk mayoritasnya kan muslim. Tapi juga karena udah biasa itu lah kita jadi males buat ngambil hikmah dari proses penyembelihan tersebut. Paling-paling cuma ada komentar : “Ih, kasian sapinya ya” atau “Wah, darahnya muncrat ngeri coy” atau “Gile, udah dipotong kepalanya masih aja tuh sapi jingkrak-jingkrak.”

Oleh karena sebab di atas, maka dari itu sesungguhnya walaupun demikian dan meskipun adanya… “Banyak bacot, lo! Benang merah, benang merah!” Eits, sabar Pak Dalang, ampun deh kita kembali ke benang merah. Kata ustadz gue di pengajian dulu sih, hikmah dari ibadah kurban ini sebenernya adalah untuk mengingatkan kembali peristiwa yang dialami oleh Nabi Ibrahim dulu. Waktu itu Nabi Ibrahim diperintahkan Allah SWT untuk mengorbankan putera beliau yang sangat beliau sayangi, yaitu Nabi Ismail. Hmm, kalo kita pasti menganggap itu tugas yang teramat berat. Bayangin aja, sebelumnya Nabi Ibrahim belum punya anak dalam waktu yang cukup lama, dan saat ia udah dikaruniai seorang anak, nggak berapa lama anak satu-satunya itu malah diminta buat dijadikan kurban. Namun hebatnya Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sanggup menerima perintah dari Sang Khalik tersebut dengan tulus hati.

Eits, cukup di sini ceritanya, kalian juga pasti udah tau gimana ending dari peristiwa ini kan? Yang penting adalah sikap rela berkorban yang amat besar yang dilakukan Nabi Ibrahim untuk melaksanakan segala perintah dari Allah SWT, itulah yang harus kita contoh. Pokoknya sami’na wa atha’na, kami dengar dan kami taat.

Tapi bagaimana dengan umat Islam saat ini? Sayang sekali, nggak sedikit dari umat Islam dengan sombongnya mencampakkan aturan-aturan yang telah Allah tetapkan untuk diterapkan dalam kehidupan. Banyak yang mengambil sebagian aja dari ajaran Islam yang menurut mereka gampang dilaksanakan atau menguntungkan, sedangkan yang dianggap susah bin ribet, ya dibuang seenaknya, maksudnya nggak dilaksanakan gitu. Hooi, apa kalian nggak mau tanggung jawab? Jangan pura-pura lupa deh, kan dulu pernah ngucap sumpah bahwa ‘Laa ilahailallah, Muhammadarrasulullah’? Itukan pernyataan yang keluar dari mulut sendiri, kalo tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah. Artinya segala yang diperintahkan oleh Tuhan baik melalui Qur’an maupun assunah melalui utusan-Nya musti diyakini kebenarannya dan wajib dilaksanakan kan?

Makanya Abu Jahal mati-matian nggak mau ngucapin syahadat, karena paham konsekuensi yang musti ditanggung setelah ngucapin syahadat yaitu meninggalkan berhala yang selama ini begitu dipujanya dan menyembah Allah sebagai satu-satunya Tuhan. Sekarang, berkali-kali ngucapin syahadat juga nggak masalah kok. Tapi mana jilbab yang seharusnya wajib dikenakan itu? Apa karena panas dan ribet, jadi dengan seenaknya nggak dipakai? Lalu pacaran masih tetap jalan? Apa karena alasan cinta, maka cinta kepada-Nya lah yang jadi dikorbankan? Gimana juga dengan mereka yang ngakunya pejabat, dikemanakan aturan Islam yang sempurna itu? Lupa narohnya dimana ya, karena saking sibuknya memperkaya diri sendiri?

Begitulah, boro-boro berkorban nyawa jihad fi sabilillah, untuk berkorban sedikit ’ribet’ menggunakan jilbab atau meninggalkan pacar aja udah ngerasa segitu beratnya. Apa nggak malu tuh, sama sapi hewan kurban yang dengan nyantai digorok lehernya buat dikorbanin, agar dagingnya bisa disantap oleh para fakir miskin. Bukankah pengorbanan mereka amat besar?
Pren, mungkin kita masih dengan santainya menyaksikan penyembelihan hewan kurban, memotong-motong dagingnya, lalu membakarnya di pemanggangan. Sementara di belahan dunia lain, jangankan berkurban hewan ternak, tapi merekalah yang mengorbankan diri untuk dihabisi oleh biadab zionis laknatullah’alaih, tubuh mereka sendirilah yang terpotong-potong dan terpanggang oleh bom fosfor putih. Dan sekarang, apa yang bisa kita lakukan?

Mengutip orasi yang pernah disampaikan sahabat, sebenernya jauh lebih mulia hidup di daerah konflik kayak di Palestin dibanding tinggal di daerah yang adem ayem seperti di sini. Di Palestin misalnya, seseorang yang keluar rumah akan berhadapan langsung dengan kebuasan tentara Israel, jika ia mati saat melawan, maka ia mati syahid. Sedangkan jika kita keluar rumah ke jalan raya, yang kita lihat adalah pemandangan yang begitu menghinakan seorang Muslim, seperti banyaknya orang yang enggan menutup auratnya. Kalo kita mati ketabrak gara-gara asyik melototin itu, gimana? Na’udzubillah..!

Yah, maunya sih suatu saat nanti bakal dikirimkan pasukan untuk membebaskan umat Islam yang sedang digempur itu, dan bakal diadakan semacam pelatihan militer yang diwajibkan bagi seluruh laki-laki Muslim yang mampu untuk menyeleksi pasukan yang bakal diberangkatkan. Gue pasti ikut dengan senang hati bila nggak ada uzur tentunya. Kapan lagi dapat kesempatan mulia kayak gitu? Daripada begini terus kan, bosan juga sih cuma bisa mengurut dada, nyumpahin Israel lewat tulisan atau cuma ikut berbagai aksi untuk bebaskan Palestina. Tapi hal itu kayaknya nggak bisa terwujud, kecuali jika kita dipimpin oleh seorang Khalifah gagah berani yang nggak akan membiarkan begitu saja umat Islam dizalimi dan daerah kaum Muslim dicaplok seenaknya. Penguasa saat ini sih cuma bisa teriak-teriak ngutuk begitu aja, nggak ada gunanya tau. Heh, apa mereka pikir hidup di jamannya Malin Kundang, main kutuk-kutukkan segala?

Jadinya, saat ini kita cuma bisa berjuang mendakwahkan Islam agar diterapkan di seluruh aspek kehidupan, mengajak sudara-saudara yang lain agar berjuang bersama, mengorbankan segenap upaya yang bisa dilakukan untuk menegakkan kembali kehidupan Islam. Sederhananya sih kayak gitu. Ada usul lain? Yang jelas, jangan mau kalah dengan pengorbanan sapi! Sudah berapa besar pengorbanan kita terhadap Islam? Jangan berikan waktu sisa kita untuk Islam, tapi suarakan Islam, perjuangkan kapan pun, dimana pun. Yakinlah, pengorbanan kita ini dibalas dengan hasil yang setimpal, baik di dunia maupun di akhirat.





Untuk KPK (Khilafah Pasti Kembali)

30 11 2009

Puisi Negeri Para Bedebah
Karya:Adhie Massardi

Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan

***

Begitu berani, namun kita tahu fakta, bahwa ini pengungkapan yang begitu jujur dari Adhie Massardi mengenai potret bangsa ini. Bukan, bukan hanya bangsa ini, namun mungkin seperti ini juga keadaan negeri-negeri lain di berbagai belahan dunia sekarang. Negeri-negeri yang dikuasai oleh pemerintahan tirani dalam balutan menarik demokrasi.

Puisi ini disampaikan di depan gedung KPK yang ditujukan kepada aparat pemerintahan terutama penegak hukum yang dianggap melakukan upaya kriminalisasi terhadap lembaga pemberantas korupsi di negeri ini. Well, saya bukannya ingin ikut-ikutan sok politis atau ngomongin isu yang super hangat akhir-akhir ini. Puisi yang begitu ’menampar’ inilah yang membuat saya terbakar.

Ya, tak peduli apakah nantinya buaya yang menelan cicak bulat-bulat, atau dengan heroiknya cicak yang bakal menaklukkan si buaya. Yang jelas, kasus ini makin membuka mata kita, bahkan mata hati dan pikiran bagi yang memilikinya, bahwa hampir tak ada lagi lembaga-lembaga negara yang bersih seutuhnya. Korupsi, suap-menyuap, memperkaya diri tanpa memikirkan nasib jutaan orang-orang yang jadi tanggung jawabnya, cih.

Media pun ribut menyoroti kata : Korupsi. Seakan-akan korupsilah aktor tunggal kesengsaraan yang dialami bangsa ini. Padahal korupsi bukanlah permasalahan utama. Ini hanyalah cabang dari akar permasalahan sesungguhnya : diterapkannya sistem aturan kapitalisme yang menyediakan kesempatan seluas-luasnya bagi penguasa menjadi pengusaha busuk yang menghalalkan segala cara. Jabatan adalah ladang bisnis yang prospeknya paling cerah!

Apa solusi bagi permasalahan ini? Perbaiki akhlak dan kembali kepada diri masing-masing? Itu takkan mencabut akarnya sampai ke ujungnya. Aturan bobrok yang mengenyahkan agama dari kehidupan ini dijamin ampuh memerangkap siapa pun yang berkecimpung di dalamnya, tak peduli dulunya orang itu berakhlak mulia. Keadaan akan memaksa. Hingga akan terkemuka alasan ’Anda tak tahu kondisi sebenarnya yang terjadi di dalam sana. Siapa pun akan tergoda melakukan kebusukkan yang sama!’

Diskusi, demonstrasi, dan revolusi. Solusi yang menarik, dan seharusnya kita sepakat pada kata yang terakhir. Tentu kita tak ingin melakukan sesuatu yang setengah-setengah untuk mengubah keadaan, tapi ubahlah semuanya secara komprehensif! Revolusi, bukan reformasi. Mengganti sistem aturan produk kesombongan manusia dengan sistem yang datang dari kesempurnaan Sang Maha Kuasa. Maka pantaskah kita cuma diam saja sambil menunggu siapa pemenang antara duel cicak dan buaya yang tak ada gunanya? Bersatu kawan, dan bergeraklah. Kita perjuangkan sekuat tenaga, harta dan pikiran kita untuk perubahan. Untuk tegaknya diinul Islam rahmatan lil ’alamiin, solusi semua problematika kehidupan yang akan membawa kita pada kemuliaan, dunia akhirat. Segera lakukan..

Karena revolusi ini adalah perintah dari-Nya.
Karena revolusi ini akan datang dalam waktu yang segera.
Karena revolusi ini, adalah milik kita…!

(Beberapa hari menjelang acara Dialogika yang akan diadakan Gema Pembebasan Komisariat UNLAM Banjarbaru dengan tema : KPK –Kita Perlu Khilafah-)

Wallahu’alam..





Tarik Nafas Dalam, Mumpung Masih Bisa

30 11 2009

Uhh, entah kenapa pagi ini badanku terasa kaku. Pagi? Tidak, aku tak melihat secercah cahaya pun dari celah jendela kamarku. Masih belum muncul sang surya, bahkan juga tak kurasakan sinar putih lembut dari lampu kamarku. Oh iya, akhir-akhir ini aku punya kebiasaan mematikan si hemat energi sebelum tidur. Jam berapa sekarang, aku tak tahu sebab tak dapat ku lihat jam dinding dalam kegelapan begini. Ku pikir ini masih tengah malam atau sudah dini hari.
Aku pun sadar, aku terjaga dan tak bisa melanjutkan kembali mimpiku yang tadi masih samar. Terjaga dalam keadaan seperti ini memang menyiksa. Apalagi badanku yang terasa sakit sekujur tubuh dengan sensasi kaku yang aneh sangat enggan dibawa kompromi untuk bangkit dari ranjang. Hmm, ini pasti karena tadi pagi ku forsir seluruh ekstrimitas dalam permainan futsal dengan para sahabatku.

Hening kurasakan entah dalam waktu yang berapa lama. Daripada begini terus, lebih baik ku cari sedikit hiburan saja, pikirku. Tanganku berusaha meraih sesuatu di bawah lantai tepat di samping tempat tidurku, habitat remote tivi kamarku biasa berada. Biasanya sih ada saja stasiun televisi yang setia 24 jam selalu tayang, entah acara yang ditampilkan itu mutu rendahan seperti sinetron atau nyanyi bareng emak yang dilombakan. Heh, makanya akhir-akhir ini aku jarang nonton tivi. Tapi biarlah kali ini lumayan buat pengantar tidur, siapa tahu aku beruntung masih sempat menyaksikan ’opera van banjar’ acara lawak favoritku. Atau mungkin sedang jam tayangnya pertandingan Liga Champion?

Tapi mana sih remote tiviku? Tanganku rasanya sudah menggerayangi hampir ke bawah tempat tidurku namun tetap saja ia tak ku temukan. Eh, apa ini, rasanya lantai kamarku yang terbuat dari ulin permukaannya tidak kasar seperti ini. Bahkan indera perabaku menemukan sesuatu mirip akar-akar kecil yang menyembul dari tanah. Ah, aku pasti mengigau. Sudahlah, aku menyerah saja, lebih baik kulakukan hal yang lain.

Maka aku teringat dengan MP3 ku yang setia nangkring di bawah bantalku. Daripada sepi, mendingan nyetel lagu Linkin Park yang baru ku download di warnet tadi siang dengan volume 99 persen lewat headset. Wahaha, pasti ajip men!

Tapi lagi-lagi aku harus kecewa, karena tak ku dapati si MP3 di penjuru kasur ku. Huh, pasti aku lupa menaruhnya di ruang tamu sebelum tidur tadi.
Lalu otakku ternyata mensugestikan kali ini aku harus menemukan hape ku. Biasanya ketika tidur ada sms yang masuk tapi tak sempat ku baca, mungkin saja hal itu terjadi lagi. Atau aku mainkan saja game yang tak tamat-tamat pada aplikasi hape ku. Atau ku buka facebook lewat hape lalu ganti status dengan face ngantuk? Atau ku teror saja kawan-kawanku dengan misscall sembunyi nomor, hahaha, pasti mereka ketakutan, minimal kesal karena terganggu. Namun, aku hanya tersenyum kecut sebab handphone ku yang biasanya tergeletak di samping tubuhku kali ini ‘pergi’ entah kemana. Oke, ku miscall saja kan, gitu aja kok repot. Eh, tapi pakai apa, pakai dengkul?
Aku bingung kali ini apa yang harus ku lakukan. Entah untuk yang ke berapa kalinya ku coba lagi melabuhkan diriku ke alam dimana kucing pun bisa ngomong (maksudnya alam mimpi).

Tak bisa. Aku gelisah, ku bolak-balikkan tubuhku menghadap kanan dan kiri, telungkup dan terlentang. Ku coba getarkan pita suaraku, memanggil adikku yang biasanya tidur di kamar sebelahku. Tak bisa. Sudah jam berapa ini? Rasanya sudah sangat lama aku terjaga. Mungkin sudah dekat waktu subuh. Tapi mana ibuku yang biasanya setia membangunkanku, namun selalu tak kuhiraukan? Suaraku tercekat tak mampu bahkan untuk berkata ’ibu..!’.

Terlintas juga akhirnya di benakku untuk bertahajjud. Ku coba bangun, tapi kembali aku dikalahkan oleh kemauan kuat janggal tubuhku yang menolak keinginanku. Ku coba betulkan posisi bantalku, meraih selimut hangat, dan memeluk guling. Semoga dengan posisi yang nyaman aku bisa tertidur lagi. Tapi seketika itu akan ku lakukan, aku merasakan hal yang membingungkan.
Aku baru sadar kalau tempatku merebahkan kepala bukanlah di atas bantal, tetapi gundukan-gundukan keras dan lembab. Selimut yang kucari bukanlah kain tebal berwarna-warni tetapi kain putih tipis dan panjang seukuran tubuhku. Kamarku seketika tak lagi seperti kamarku. Gelap yang kukira tadi karena lampu yang mati ternyata memang karena mustahil tempat macam ini terjangkau oleh cahaya. Inikah aku? Ini mimpi?

Aku ingat saat terakhir aku di kamarku ketika keluargaku menatapku dengan pandangan nanar bahkan ibuku tersedu. Aku tak berdaya saat itu dan ayahku membisikkan dua kalimat jaminan hidup seorang yang Muslim. La ila ha ilallah, Muhammadurrasulullah.

Air mata penyesalan tak tahu apakah bisa mengalir dalam keadaanku yang begini. Baru ku rasakan semut-semut hitam dengan belang putih di bagian abdomennya berbaris di sepanjang kakiku. Sesuatu yang merayap, mungkin kalajengking hinggap di pipiku. Seharusnya aku bergidik, tapi mau bagaimana lagi. Merekalah yang bakal jadi pendampingku dikala ku sendirian selama beberapa saat ke depan. Bukan lagi televisi di kamar, MP3, maupun handphone.

Sayup-sayup terdengar gemuruh diiringi, akhirnya, secercah cahaya lalu aku pun terbangun. Sosok yang mendatangiku itu bertanya, tenang tapi tegas menggentarkan, ”Ma rabbuka..?”

***

Daun-daun kering yang gugur ditiup angin bergantian menerpa wajahku, menyadarkanku dari ketermanguan yang dalam. Hehehe, persis seperti di film-film ya, ketika sebuah cerita mencapai klimaksnya, tanpa disangka ternyata itu hanyalah khayalan sang tokoh utama.

Mataku tertuju pada buku berisi surah Yaasin yang ku pegang dan sudah selesai ku baca, lalu ke arah nisan kakekku yang meninggal ketika aku masih SD dulu. Ku lihat ayah dan ibuku masih khusuk menyelesaikan ayat 83 surah Yaasin. ”Fasubhaanalladzii biyadihi malakuutu kulli syay in wa ilayhi turja’uun”. Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.

Daun-daun kering tadi sebagian jatuh di atas kubur. Tidak,dari yang sebagian itu ternyata bukan semuanya daun kering. Secara seksama ku temukan bahwa terselip selembar daun yang masih hijau dan muda.

Tak seperti para ’senior’nya yang rapuh dan keriput, yang satu ini jelas masih segar. Kasihan sekali, seharusnya tempat untuk si ’daun muda’ adalah bergantung di dahan yang rimbun nan hijau, bercengkerama dengan kawan-kawannya yang lain, bukannya terbuang dan terpinggirkan seperti ini. Mungkin si ’daun muda’ tadi juga sebenarnya masih asyik menikmati hembusan angin yang lembut, namun tak menyadari lama-lama angin itu jugalah yang tanpa permisi mencabutnya dari sang ranting. Nikmatnya semilir angin langsung hilang seketika tergantikan angin kencang nan menyakitkan.

Sepertinya begitu juga dengan kematian. Ia memang penuh dengan kemisteriusan. Akrab dengan mereka yang tua namun tak berarti renggang dengan yang muda. Semuanya sama saja. Kita takkan tahu kapan bos maut akan menjemput, dan tentu kita takkan sempat protes begitu nyawa kita direnggut. Takkan bisa protes, walaupun saat itu datang kita masih dalam keadaan hijau begini. Walaupun saat itu indahnya dunia sedang asyik-asyiknya kita nikmati, tiba-tiba kematian datang sebelum tanda-tandanya diketahui. Dengan tak terduga, seketika semuanya langsung sirna. Siapa yang tahu? Bahkan ketika memejamkan mata selama tidur, adakah yang berani menjamin kelopak mata bisa membuka kembali keesokan paginya?
Takut? Kenapa harus? Ia adalah sesuatu yang pasti datang. Takkan bisa ditolak dan juga ditunda. Seperti halnya hari Senin, hari upacara bendera, kegiatan paling membosankan di sekolah. Namun mau tak mau kita juga tetap menghadapinya.

Oke, ada hal yang harus kita khawatirkan memang tentang kematian. Persiapan. Apa bekal yang kita bawa tentu harus sepadan jika ingin selamat dalam perjalanan yang panjang. Kemudian seperti apa kematian yang kita inginkan? Itupun bisa dimasukkan ke dalam proposal yang kita ajukan kepada Sang Pemilik Hidup & Mati.

Sebagaimana seorang sahabat Rasulullah yang protes ketika ia masih hidup sehabis peperangan. Ketika ditawarkan ghanimah (hasil rampasan perang), ia berujar, ”Bukan itu yang aku inginkan, tapi ini!” ia menunjuk pada pergelangan tangannya tepat di urat nadi. Artinya, mati syahid. Maka pada perang selanjutnya tertegunlah Rasul beserta para sahabat, sebab sang sahabat itu tewas tertusuk tombak tepat di tempat yang pernah ia tunjuk!
Lalu bagaimana keadaan kita setelah mati? Jangan pernah membayangkannya sama dengan paparan saya di atas tadi. Itu jelas cuma fiktif, bohong belaka, hehe (mana mungkin dalam kubur masih sempat mikirin facebook). Sekali lagi, siapa yang tahu, mungkin keadaannya jauh lebih mengerikan dan menakutkan. Itu juga tergantung dari ‘bekal’ kita tadi kan?

”Kullu nafsin dzaa iqatulmawti..
(tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati)”
-Firman Allah Qur’an al-Anbiyaa ayat 35

“Setiap langkah dalam kehidupan dapat mengantarkan kita pada kematian. Lalu untuk apa kita melakukan kesalahan?”
–Budi Saputera, konseptor minimagz ’BadaiOtak’

”Jika tak ingin dikuasai oleh kehidupan dunia, bagaimana kalau dunia yang ada di bawah kendali kita?”

1 Syawal 1430 Hijriyah,
sepulang ziarah ke makam kakek & keluarga lain juga seorang guru yang dirahmati Allah SWT.

oleh : saudaramu, dengan maksud mengingatkan.








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.